Pengalaman Mengurus Administrasi di 3 Kota Berbeda

Sedikit prolog, kalo ditanya orang saya asalnya dari mana, jujur butuh waktu beberapa detik untuk saya bisa menentukan jawaban yang tepat. Saya lahir di bogor, besar di jogja, dan lama menetap di depok. Pada titik inilah saya merasa mengalami krisis identitas (halah terlalu mendramatisir wkwk). Maklum, keluarga saya termasuk bangsa nomaden, berpindah tempat untuk mencari lahan hidup. Total dari yang saya ingat saja sudah ada 5 tempat tinggal yang pernah kami singgahi.

Pengalaman mendiami beberapa daerah inipun memberikan saya pengalaman menghadapi urusan administrasi di berbagai daerah pula, terutama urusan catatan sipil. Beda daerah, beda rantai birokrasinya dan beda pula standard pelayanannya. Tulisan ini sedikit menjabarkan pengalaman saya dalam urusan catatan sipil di 3 kota/kabupaten.

1. Kabupaten Kulon Progo

Pengalaman urusan catatan sipil di Kulon Progo saya dapatkan ketika mengurus E KTP dan mengurus pencabutan KK sekitar tahun 2016. Ketika saya sudah menikah dan ingin membuat KK baru, otomatis saya harus mencabut nama saya dari KK orang tua saya.

Kesan mengurus administrasi di kulon progo sangat menyenangkan. Dinas catatan sipil disini betul betul sangat mempermudah masyarakatnya dalam urusan administrasi. Waktu yang saya butuhkan untuk mencabut KK dan membuat surat keterangan hanya 1 hari, itu terhitung dari pengurusan di Kelurahan ke Kecamatan hingga ke Dukcapil.

Standar pelayanannya perlu diacungi jempol. Konsepnya benar benar dibuat dengan orientasi melayani masyarakat. Ada security yang bisa dijadikan tempat konsultasi (seperti di Bank), nomor antrian dan sistem antrian yang jelas, antrian dan pelayanan semua di dalam gedung, dan ada lokasi fotocopy tak jauh dari situ (berbayar tapi ya).

Suasana Pelayanan Dukcapil Kulon Progo

Bisa jadi karena Kulon Progo merupakan Kabupaten yang relatif sedikit penduduk, jadi ga terlalu ramai penduduk yang ke dukcapil perharinya (meski kenyataanya kemarin penuh juga). Tapi tetap menurut opini saya pribadi, disini pemerintah betul betul memiliki orientasi mengedepankan pelayanan dan mempermudah masyarakatnya. Salut!

2. Kota Depok

Depok menjadi kota domisili saya saat ini. Sudah berulang kali saya bolak balik kelurahan – dukcapil untuk mengurus berbagai urusan administrasi. Mulai dari urusan KTP hingga Akta anak memiliki pola yang relatif sama

Yang saya kurang suka dari pengurusan administrasi di depok itu relatif lama. Tiap level birokrasi butuh waktu pengurusan minimal 14 Hari. Jadi misal ngurus KK , nunggu surat rekomendasi di kelurahan 2 Minggu, terus ke dukcapil dan harus nunggu 2 minggu lagi. Tentu jadi kontras ya setelah saya dapat pelayanan super kilat dari birokrat Kulon Progo.

Sebenernya gaada masalah kalo misal nunggu 2 minggu udah langsung jadi. Masalahnya kadang udah ditunggu 2 minggu masih juga molor, kan kasian yang kudu bolak balik cuti kerja untuk urusan begini.

Suasana Dukcapil Depok

Tapi sisi baiknya, fasilitas dan perangkat cukup mendukung mulai dari tingkat kelurahan sampai ke dukcapil, dan alurnya singkat (ga perlu mampir ke kecamatan). Alur pendaftaran sampai pulang udah jelas, ada CS juga yang bisa ditanyain mengenai alur administrasi. Loket pelayanan banyak, ruangan ber Ac dan tempat duduk yang banyak. Jadi ya relatif nyamanlah untuk ngantri juga.

3. Kabupaten Bogor

Karena akta lahir saya terbit di Bogor, otomatis kalo ilang harus ngurus kesana, dan ini yang saya alami beberapa minggu lalu. dibandingkan dengan Kulonprogo dan Depok, pengalaman saya ngurus administrasi di Dukcapil Kabupaten bogor sangat kacau. Banyak hal yang saya ga ngerti dari pelayanan di kabupaten ini.

Kalo kalian pernah main ke daerah Pemda Bogor di Cibinong, kesannya tuh daerahnya ditata rapih, banyak gedung bagus, banyak ruang terbuka dan adem pula. Nyaman lah kalo main kesana. Tapi kesan ini berbanding terbalik ketika saya mengurus administrasi disini. Gimana engga, dari sekian banyak bangunan dan ruang yang ada, kok untuk pelayanan masyarakat ditaro di gang belakang gedung, yang biasanya untuk parkir motor. Pemerintah kan digaji rakyat untuk melayani masyarakat, lha kok pelayanan untuk masyarakat malah dinomer sekiankan.

Belum lagi alur pelayanan yang amburadul, ga jelas harus kemana dulu dan kemana kumudian. Gaaada petugas “cs” yang bisa ditanyai juga. Alhasil saya inisiatif langsung ke loketnya tanpa mengambil nomer antrian (karena ga saya temukan juga tempat ngambil nomer antrian). Syukur ga ada dimintain nomer antrian. Sepertinya nomer antrian hanya formalitas atau tidak berjalan dengan baik pelaksanaanya. Orang orang disebelah saya tetap berdiri mengantri dengan membawa nomor antrian yang ga urut juga antriannya.

Suasana Pelayanan Dukcapil Kabupaten Bogor

Saya sempat iseng baca di papan pengumuman, ada pelayanan pengambilan nomor antrian via sms. Mungkin tujuannya untuk memudahkan masyarakat ya, tapi yang terjadi di lapangan justru menyulitkan. Ada yang ngeluh sms tak kunjung dibales, ada juga yang gatau harus sms dulu untuk bisa dilayani. Ga heran banyak calo berkeliaran disini.

Saya cukup beruntung dapat dilayani dalam 1 hari untuk mengurus surat berita acara akta kelahiran. Kalo saya dengar percakapan orang orang ada yang sudah 3 bulan mengurus akta belum jadi juga. Heu Heu

Tapi dari semua kota dan kabupaten diatas, yang patut diapresias itu gaada pungutan liar selama mengurus administrasi. Selama kita ngurus sendiri dan sesuai dengan waktu yang di tentukan, kita ga perlu keluar uang lagi. Beda hal kalo terlambat ya, pasti akan kena denda. Budaya ini yang harus jaga bukan cuma dari pemerintah, kita sebagai masyarakatpun juga harus ikut menjaga. Ikuti alur administrasinya, jangan dibiasain main duit biar cepet, yang kaya gini yang bikin budaya pungli justru berkembang.